<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>spiritualinblue.com</title>
	<atom:link href="http://spiritualinblue.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spiritualinblue.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Jul 2011 02:52:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Sang Fajar</title>
		<link>http://spiritualinblue.com/sang-fajar</link>
		<comments>http://spiritualinblue.com/sang-fajar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 17:36:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mantra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spiritualinblue.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;<br />
<a href="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/fajar.jpg"><img class="size-medium wp-image-35 alignnone" title="fajar" src="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/fajar-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><br />
&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spiritualinblue.com/sang-fajar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUJUD BERSAMA BELIBIS</title>
		<link>http://spiritualinblue.com/sujud-bersama-belibis</link>
		<comments>http://spiritualinblue.com/sujud-bersama-belibis#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 06:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mantra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Biru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spiritualinblue.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Kala bingkai kabut memajemukkan hempasan malam Saat keyakinan memasung geliat dingin Ranu Kumbolo Kehidupan hanyalah sepenggal lukisan dalam perjamuan suci Lantunan mantra untuk memahat desau angin Meleburkan yang bersujud dengan yang disujudi Yang merindukan dengan yang dirindukan Kurenda sabda bukit batu Untuk meruntuhkan altar pemujaan keakuanmu Kupuisikan keheninganmu Di tengah gemuruh kenyataan yang membiru Kusunting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/work.2455837.3.flat550x550075f.wild-blue-yonder.jpg"><img class="size-medium wp-image-27 alignright" title="work.2455837.3.flat,550x550,075,f.wild-blue-yonder" src="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/work.2455837.3.flat550x550075f.wild-blue-yonder-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Kala bingkai kabut memajemukkan hempasan malam<br />
Saat keyakinan memasung geliat dingin Ranu Kumbolo<br />
Kehidupan hanyalah sepenggal lukisan dalam perjamuan suci<br />
Lantunan mantra untuk memahat desau angin<br />
Meleburkan yang bersujud dengan yang disujudi<br />
Yang merindukan dengan yang dirindukan<br />
Kurenda sabda bukit batu<br />
Untuk meruntuhkan altar pemujaan keakuanmu<br />
Kupuisikan keheninganmu<br />
<a name="more"></a><br />
Di tengah gemuruh kenyataan yang membiru<span id="more-26"></span><br />
Kusunting mimpimu<br />
Tentang sebuah nama yang akan dihapuskan<br />
Tentang selaksa sejarah yang akan dihanguskan<br />
Dan segurat bayangan yang berhenti menyulam langkah</p>
<p>Saat ini engkau bukanlah sedang membaca puisi<br />
Tapi engkaulah puisi ini<br />
Engkau bukan pula sedang menyanyi<br />
Tapi engkaulah lagu itu<br />
Saat inipun engkau tidak sedang menari<br />
Karena engkaulah tarian itu<br />
Waktu sudah meradang menunggu keraguanmu<br />
Dari ujung langit suara takdir mulai serak meneriakimu<br />
Untuk segera menggerus gerak masa<br />
Kita bukanlah kenari atau perkutut<br />
Yang merangkai pesona dari dalam sangkar<br />
Kita adalah Belibisi liar<br />
Yang dilahirkan untuk menaklukkan kebisuan ufuk<br />
Menerjang badai prahara<br />
Dan meregangkan dawai cahaya<br />
Wahai angin gunung !!!<br />
Kutunggu senyummu di angkasa<br />
Kunanti dinginmu disamping Arasy<br />
Bersama kita seberangi rona rembulan</p>
<p>Sebuah Nama yang pernah mati<br />
29 Juni 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spiritualinblue.com/sujud-bersama-belibis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanyakan Kepada Sang Badai</title>
		<link>http://spiritualinblue.com/tanyakan-kepada-sang-badai</link>
		<comments>http://spiritualinblue.com/tanyakan-kepada-sang-badai#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 06:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mantra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Biru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spiritualinblue.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Aku bersimpuh di kaki Sang Badai Serpihan uzurku ruku’ bersama gelombang badai Badai yang terus bertasbih merajam kehampaan Menghempaskan rintihan keakuanku Bagai bangkai terkoyak di tebing karang Melemparkan kerinduanku Menyeberangi mega &#8211; mega di sudut cakrawala Aku adalah anak bajang Yang lahir dan ditimang dalam pusaran badai Deru suara badai melantunkan seruling wahyu Penuntun bait [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/storm1.jpg"><img class="size-medium wp-image-23 alignright" title="Lightning strikes near Baker, California during monsoon storm" src="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/storm1-300x247.jpg" alt="" width="300" height="247" /></a>Aku bersimpuh di kaki Sang Badai<br />
Serpihan uzurku ruku’ bersama gelombang badai<br />
Badai yang terus bertasbih merajam kehampaan<br />
Menghempaskan rintihan keakuanku<br />
Bagai bangkai terkoyak di tebing karang<br />
Melemparkan kerinduanku<br />
Menyeberangi mega &#8211; mega di sudut cakrawala</p>
<p>Aku adalah anak bajang<br />
Yang lahir dan ditimang dalam pusaran badai<br />
Deru suara badai melantunkan seruling wahyu<br />
Penuntun bait jiwaku<br />
Kepakan sayap jala – jala kabut Sang Badai<br />
Membungkam kebutaanku dengan tajjali agung<span id="more-22"></span></p>
<p>Wahai derita…….<br />
Bersedihlah karena air mata ini bukan lagi bagimu<br />
Wahai keputusasaan dan kecewa…….<br />
Nikmatilah kesendirianmu<br />
Karena aku tak pernah lagi menghampirimu<br />
Wahai Isro’il…….<br />
Datanglah kapan kau mau<br />
Karena engkaupun tak akan mampu<br />
Menyakiti dan menakutiku<br />
Mengapa…….<br />
Karena kepala ini sudah aku serahkan kepada Sang Badai<br />
Wahai pengecut dan penakut…….<br />
Jangan ikuti langkahku meniti badai<br />
Karena kerajaanmu akan bertabur menjadi debu<br />
Wahai keledai – keledai picik…….<br />
Jangan kau baca puisiku<br />
Karena tidak ada janji surga menantimu<br />
Mengapa…….<br />
Karena hanya seekor anjing<br />
Yang bisa menari bersamaku dalam liukan badai</p>
<p>Sebuah nama yang tak pernah mati<br />
19 Okt 2003</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spiritualinblue.com/tanyakan-kepada-sang-badai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk-mu Sang Penjarah Keremangan</title>
		<link>http://spiritualinblue.com/untuk-mu-sang-penjarah-keremangan</link>
		<comments>http://spiritualinblue.com/untuk-mu-sang-penjarah-keremangan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 01:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mantra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Biru]]></category>
		<category><![CDATA[Goresan Biru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spiritualinblue.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Seperti ketika itu, saat senja mulai menyepuh ruas-ruas malam. Sedang Engkau masih memanjat sisa kerinduan yang memingit kesedihanmu. Saat kutatap, Kau senyum , tipis, sebaris. Aku mendongak ke langit, ada yang terpantul dan merayap di cabang-cabang harapan yang memasungmu, yang tak terungkap di kata. Seperti sebuah sajak. Kuhitung pohon, kuhitung musim. Ah… sebentar lagi dedaunan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/fireflies.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17" title="fireflies" src="http://spiritualinblue.com/wp-content/uploads/2011/06/fireflies-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a>Seperti ketika itu, saat senja mulai menyepuh ruas-ruas malam. Sedang Engkau masih memanjat sisa kerinduan yang memingit kesedihanmu.<br />
Saat kutatap, Kau senyum , tipis, sebaris.<br />
Aku mendongak ke langit, ada yang terpantul dan merayap di cabang-cabang harapan yang memasungmu, yang tak terungkap di kata.<br />
Seperti sebuah sajak.<br />
Kuhitung pohon, kuhitung musim.<br />
Ah… sebentar lagi dedaunan akan segera rontok.<span id="more-5"></span> Senja di langit mengendap pelan. Tak ada rumput hanya ufuk.<br />
Engkau menghitung langkah, masih disini juga. Kakimu gelisah, setapak lengang. Tak ada kaleng bekas, bungkus rokok, atau rongsokan peradaban konsumeris yang bisa dipermainkan kaki.<br />
Engkau-pun hanya bisa menendang angin dan mengibas dingin yang mulai merayap di ujung jemarimu.<br />
Aku tak punya pilihan. Aku harus memilin harimu yang tanpa minat. Sementara jarak dan waktu mengkerut begitu kecil dalam lamunanmu.<br />
Terlalu banyak hujan.<br />
Ya… semuanya basah… kelam… langit bengkak.<br />
Kami semua mengkhawatirkanmu. Engkau tak mampu membuka selimut kegamanganmu.<br />
Karena semua yang kau suka biasanya akan segera berlalu.<br />
Aku harus mendampingimu, sesaat… seperti rasi bintang menuntun perompak mengarungi gelapnya malam yang menjarah samudra.<br />
Aku harus mengajarimu bagaimana mencintai hari-hari kelam… bukit-bukit bisu… setapak penuh ular dan menghirup asap kepahitan.<br />
Mungkin…..<br />
Segalanya tak akan seperti dulu… tetapi akan menjadi tulus.<br />
Engkau sudah belajar mencintai hari-hari kelam seperti hari-hari terang…  hujan kelam…bukit-bukit bisu…setapak penuh ular… Ketika pernah dulu engkau hanya mencintai kebahagiaanmu dan memuja kerinduanmu.<br />
Aku cuma mencoba bicara dengan diriku sendiri, selalu…<br />
Tapi aku harus melangkah…memandangmu dari kejauhan… memelukmu dengan sederet puisi yang tak pernah selesai. Dan aku masih bisa mengasihimu, menunggumu…sampai zaman-zaman kan lewat.<br />
Apa yang tak bisa kita katakan, harus kita biarkan tetap membisu.<br />
Malam makin susut…dan seperti kemarin… aku masih termangu menunggu gema suaraku sendiri.<br />
Saat ini kulihat pohon-pohonpun berbagi dingin, mengekalkan esok yang mungkin tak ada.<br />
Jangan menghitung ketidakpastian dan bahagia di seluruh usia. Kita toh tak berdiri sendiri di dalam sunyi, pun ketika musim beku di sayap langit…<br />
Ngger… hidup hanya sehimpun headline, ketika lewat terbaca, huru hara yang habis di halaman lain, di sebuah dunia, kita tak tahu lagi di mana.<br />
Ya… ternyata kenangan hanya perkara yang lucu, seperti kamu, seperti aku, dan seperti mereka.<br />
Kenangan toh akan tetap tinggal di belakang. Sementara kita tetap harus berjalan.<br />
Kita memang tak bisa memilih acara.<br />
Kau akan terbiasa dengan angin runcing dan musim abu-abu. Nasib telah begitu tertib menjamu kita.<br />
Tugasku hanyalah menyalakan lentera kecil di jendela Mercusuar jiwamu.<br />
Jadilah tegar…dan jaga lentera kecilku agar dapat menuntun harapan menyibak kabut kegelisahan yang semakin berguguran.<br />
Sang Badai yang kita rindu telah kembali. Dia akan memetikkan sekuntum angin dan menyelipkannya di bibir, untuk menghiasi senyuman kita.<br />
Simpan terima kasihmu untuk gerimis yang sering menemani kita.<br />
Aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya harus berlayar mengikuti hembusannya mengarungi lembaran masa.<br />
Suatu saat nanti aku akan mampir mengunjungimu, itu janjiku yang sudah aku titipkan pada tikar pandan di teras Pesuruan.<br />
Kini biarkan fajar terus merangkak meremas waktu, dan pagi merayu kuntum mekar yang tak pernah layu tergilas jemu.<br />
Sementara mentari menyeringai dengan wajahnya yang semakin membara.</p>
<p style="text-align: right;">Magelang 11 Oktober 2005<br />
Sebuah nama yang akan kembali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spiritualinblue.com/untuk-mu-sang-penjarah-keremangan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

