Untuk-mu Sang Penjarah Keremangan   2 comments

Posted at 1:19 am in Coretan Biru

Seperti ketika itu, saat senja mulai menyepuh ruas-ruas malam. Sedang Engkau masih memanjat sisa kerinduan yang memingit kesedihanmu.
Saat kutatap, Kau senyum , tipis, sebaris.
Aku mendongak ke langit, ada yang terpantul dan merayap di cabang-cabang harapan yang memasungmu, yang tak terungkap di kata.
Seperti sebuah sajak.
Kuhitung pohon, kuhitung musim.
Ah… sebentar lagi dedaunan akan segera rontok. Senja di langit mengendap pelan. Tak ada rumput hanya ufuk.
Engkau menghitung langkah, masih disini juga. Kakimu gelisah, setapak lengang. Tak ada kaleng bekas, bungkus rokok, atau rongsokan peradaban konsumeris yang bisa dipermainkan kaki.
Engkau-pun hanya bisa menendang angin dan mengibas dingin yang mulai merayap di ujung jemarimu.
Aku tak punya pilihan. Aku harus memilin harimu yang tanpa minat. Sementara jarak dan waktu mengkerut begitu kecil dalam lamunanmu.
Terlalu banyak hujan.
Ya… semuanya basah… kelam… langit bengkak.
Kami semua mengkhawatirkanmu. Engkau tak mampu membuka selimut kegamanganmu.
Karena semua yang kau suka biasanya akan segera berlalu.
Aku harus mendampingimu, sesaat… seperti rasi bintang menuntun perompak mengarungi gelapnya malam yang menjarah samudra.
Aku harus mengajarimu bagaimana mencintai hari-hari kelam… bukit-bukit bisu… setapak penuh ular dan menghirup asap kepahitan.
Mungkin…..
Segalanya tak akan seperti dulu… tetapi akan menjadi tulus.
Engkau sudah belajar mencintai hari-hari kelam seperti hari-hari terang…  hujan kelam…bukit-bukit bisu…setapak penuh ular… Ketika pernah dulu engkau hanya mencintai kebahagiaanmu dan memuja kerinduanmu.
Aku cuma mencoba bicara dengan diriku sendiri, selalu…
Tapi aku harus melangkah…memandangmu dari kejauhan… memelukmu dengan sederet puisi yang tak pernah selesai. Dan aku masih bisa mengasihimu, menunggumu…sampai zaman-zaman kan lewat.
Apa yang tak bisa kita katakan, harus kita biarkan tetap membisu.
Malam makin susut…dan seperti kemarin… aku masih termangu menunggu gema suaraku sendiri.
Saat ini kulihat pohon-pohonpun berbagi dingin, mengekalkan esok yang mungkin tak ada.
Jangan menghitung ketidakpastian dan bahagia di seluruh usia. Kita toh tak berdiri sendiri di dalam sunyi, pun ketika musim beku di sayap langit…
Ngger… hidup hanya sehimpun headline, ketika lewat terbaca, huru hara yang habis di halaman lain, di sebuah dunia, kita tak tahu lagi di mana.
Ya… ternyata kenangan hanya perkara yang lucu, seperti kamu, seperti aku, dan seperti mereka.
Kenangan toh akan tetap tinggal di belakang. Sementara kita tetap harus berjalan.
Kita memang tak bisa memilih acara.
Kau akan terbiasa dengan angin runcing dan musim abu-abu. Nasib telah begitu tertib menjamu kita.
Tugasku hanyalah menyalakan lentera kecil di jendela Mercusuar jiwamu.
Jadilah tegar…dan jaga lentera kecilku agar dapat menuntun harapan menyibak kabut kegelisahan yang semakin berguguran.
Sang Badai yang kita rindu telah kembali. Dia akan memetikkan sekuntum angin dan menyelipkannya di bibir, untuk menghiasi senyuman kita.
Simpan terima kasihmu untuk gerimis yang sering menemani kita.
Aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya harus berlayar mengikuti hembusannya mengarungi lembaran masa.
Suatu saat nanti aku akan mampir mengunjungimu, itu janjiku yang sudah aku titipkan pada tikar pandan di teras Pesuruan.
Kini biarkan fajar terus merangkak meremas waktu, dan pagi merayu kuntum mekar yang tak pernah layu tergilas jemu.
Sementara mentari menyeringai dengan wajahnya yang semakin membara.

Magelang 11 Oktober 2005
Sebuah nama yang akan kembali

Written by Mantra on June 21st, 2011

Tagged with

2 Responses to 'Untuk-mu Sang Penjarah Keremangan'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Untuk-mu Sang Penjarah Keremangan'.

  1. test

    meliyas ukurta

    22 Jun 11 at 6:56 pm

  2. Just added this web site to my faves. I favor examining your blogs therefore we do we do hope you you can keep them coming!

    Piumini moncler

    22 Sep 11 at 1:31 am

Leave a Reply